Senin, 14 Juni 2010

ASKEP HERNIA

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Medis

1. Pengertian
a. Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dari tempatnya yang normal melalui sebuah defek congenital atau yang didapat (Barbara C.Long, hal 246).
b. Hernia adalah suatu alat dalam (viskus) atau bagiannya keluar dari pembungkusnya, sehingga merupakan keadaan abnormal (David Oxedof, 1995, hal 60).
c. Hernia adalah ptotrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan (Sjamsuhidayat, 1995, hal 700).
d. Hernia Inguinalis lateralis (indirek) ialah hernia yang melalui anulus inguinalis internus yang terletak disebelah lateral vasa epigastrika inferior, menyusuri kanalis inguinalis dan keluar ke rongga perut melalui anulus inguinalis eksternus (Kapita Selekta, 1982, hal 353).

2. Klasifikasi Hernia
a. Menurut lokalisasi
1) Hernia Inguinalis
- Indirek: batang usus melewati cincin abdomen dan mengikuti saluran sperma masuk ke dalam kanalis inguinalis.
- Direk: batang usus melewati dinding inguinalis bagian posterior.
2) Hernia Diafragma
Hernia yang melalui diafragma.
3) Hernia Umbilikal
Batang usus melewati cincin umbilikal.

4) Hernia Femoralis
Batang usus melewati femoral ke bawah ke dalam kanalis femoralis.
5) Hernia Scrotalis
Batang usus yang masuk ke dalam kantong skrotum.
b. Hernia insisi menurut sifatnya
1) Hernia Reponibel
Isi hernia dapat keluar masuk, usus keluar jika mengedan, dan masuk jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri/gejala.
2) Hernia Ireponibel
Kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga, ini disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritonial.
3) Hernia Inkaserada/Hernia Stragulata
Isi hernia terjepit oleh cincin hernia/terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut.

3. Anatomi Fisiologi
Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan dengan enzim dan zat cair yang terbentang mulai dari mulut sampai anus. Struktur pencernaan adalah:
a. Mulut
Mulut merupakan permulaan saluran pencernaan, selaput lendir mulut ditutup epithelium yang berlapis-lapis. Dibawahnya terletak kelenjar-kelenjar halus yang mengeluarkan lendir. Selaput ini kaya akan pembuluh darah dan memuat ujung akhir saraf sensoris didalam rongga mulut.
b. Faring
Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dan kerongkongan (esofagus). Didalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan
kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan hidung.
c. Esofagus/Kerongkongan
Esofagus merupakan saluran pencernaan yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya 25cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah lambung.
d. Gaster/Lambung
Lambung merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama di daerah spingter. Lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri berhubungan dengan osofagus melalui orifisium pilorik, terletak dibawah diafragma didepan pankreas dan limpa, menempel di sebelah kiri fundus uteri.
e. Usus halus
Merupakan bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal dari pilorus dan berakhir pada sekum, panjangnya ± 6 meter, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan.
Usus halus dibagi tiga bagian, yaitu:
1) Duodenum/Usus 12 jari, panjang ± 25cm berbentuk seperti tapal kuda melengkung kekiri, bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir yang disebut papilla vateri, disini terdapat muara saluran empedu dan saluran pankreas. Empedu dibuat dihati untuk dikeluarkan di duodenum melalui duktus koleduktus yang fungsinya mengemulsikan lemak dengan bantuan lipase. Pankreas menghasilkan amilase yang berfungsi mencerna hidrat arang menjadi disakarida dan tripsin yang berfungsi mencerna protein menjadi asam amino atau albumin dan polipeptida.
2) Yeyunum/Jejunum
Terletak di regio abdominalis media sebelah kiri dengan panjang ± 2-3 meter.
3) Ileum, terletak di regio abdominalis bawah dengan panjang ± 4-5 meter, lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantara lipatan peritonium yang berbentuk kipas atau yang dikenal sebagai mesenterium.
f. Usus besar/Intestinum mayor
Panjangnya 1,5m, lebarnya ± 5-6cm. Bagian-bagian usus besar yaitu kolon asenden panjangnya 13cm, apendik (usus buntu), kolon tranversum panjangnya ± 38cm, kolon desenden panjangnya ± 25cm, kolon sigmoid, anus
g. Peritonium (selaput perut)
Peritonium terdiri dari dua bagian yaitu: peritonium parietal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritonium viseral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen.
Fungsi peritonium:
1) Menutupi sebagian dari rongga abdomen dan pelvis.
2) Membentuk pembatas yang halus sehingga organ yang ada dalam rongga peritonium tidak saling bergesekan.
3) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen.
4) Kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi.

4. Etiologi
Penyebab Hernia Inguinalis yaitu:
a. Kongenital/cacat bawaan
Sejak kecil sudah ada, prosesnya terjadi intrauteri, berupa kegagalan perkembangan.
b. Herediter (kelainan dalam keturunan)
c. Umur (hernia dijumpai pada semua umur)
d. Jenis kelamin
Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita
e. Didapat, seperti mengedan terlalu kuat, mengangkat barang-barang yang berat.

5. Patofisiologi
Hernia adalah potrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan (R. Sjamsuhidjat, 1997). Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena yang didapat (mengangkat beban berat, ngedan), hernia dapat terjadi pada semua umur, lebih banyak pada pria dari wanita.
Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, dan kelemahan otot dinding perut karena usia.
Proses turunnya testis mengikuti prosesus vaginalis. Pada neonatus kurang lebih 90% prosesus vaginalis tetap terbuka sedangkan pada bayi umur satu tahun sekiar 30% prosesus vaginalis belum tertutup. Tetapi kejadian hernia pada umur ini hanya beberapa persen. Tidak sampai 10% anak dengan prosesus vaginalis paten menderita hernia. Pada anak dengan hernia unilateral dapat dijumpai prosesus vaginalis paten kontralateral lebih dari separo, sedangkan insidens hernia tidak melebihi 20%. Umumnya disimpulkan bahwa adanya prosesus vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tetapi diperlukan faktor lain seperti anulus ingunalis yang cukup besar.
Tekanan intraabdomen yang meninggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi, dan asites sering disertai hernia ingunalis.
Insidens hernia meningkat dengan bertambahnya umur mungkin karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intraabdomen dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya.
Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur. Pada keadaan itu tekanan intraabdomen tidak tunggu dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal. Sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus kedalam kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan n.ilioinguinalis dan n.iliofemoralis setelah apendektomi.
Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum disebut hernia skrotalis. Hernia ini disebut lateralis karena menonjol dari perut lateral pembuluh epigastrika inferior. Disebut indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran yaitu anulus dan kanalis inguinalis; berbeda dengan hernia medialis yang langsung menonjol melalui segitiga Hesselbach dan disebut sebagai hernia direk. Pada pemeriksaan hernia lateralis, akan tampak tonjolan berbentuk lonjong sedangkan hernia medial berbentuk tonjolan bulat.
Pada bayi dan anak, hernia lateralis disebabkan oleh kelainan bawaan berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis peritonium sebagai akibat proses penurunan testis ke skrotum. Hernia geser dapat terjadi disebelah kanan atau kiri. Sebelah kanan isi hernia biasanya terdiri dari sekum dan sebagian kolon asendens, sedangkan sebelah kirinya terdiri dari sebagian kolon desendens.
Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan di lipat paha yang timbul pada waktu mengedan, batuk, atau mengangkat beban berat, dan menghilang waktu istirahat baring. Pada bayi dan anak-anak adanya benjolan yang hilang timbul di lipat paha biasanya diketahui oleh orang tua. Jika hernia mengganggu dan anak atau bayi sering gelisah, banyak menangis, dan kadang-kadang perut kembung, harus dipikirkan kemungkinan hernia strangulata (R. Sjamsuhidajat, 1997).



6. Tanda dan Gejala
a. Berupa benjolan keluar masuk/keras
b. Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan
c. Terdapat gejala mual dan muntah atau distensi bila telah ada komplikasi
a. Terdapat keluhan kencing berupa disuria pada hernia femoralis yang berisi kandung kencing

7. Pemeriksaan Diagnostik
Dalam menegakkan diagnostik pada penderita hernia dapat dilakukan:
a. Pemeriksaan fisik, pasien diminta untuk mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan berdiri bila ada hernia maka akan tampak benjolan.
b. Bila sudah ada benjolan dapat diperiksa dengan cara meminta pasien untuk berbaring bernafas dengan mulut untuk mengurangi tekanan intra abdominan, lalu scrotum diangkat perlahan-lahan.
c. Limfadenopati inguinal. Perhatikan apakah ada infeksi pada kaki sesisi.

8. Pengobatan dan Perawatan
a. Secara konservatif (non operatif)
1) Reposisi hernia
Hernia dikembalikan pada tempat semula bisa langsung dengan tangan.
2) Penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset.
b. Secara operatif
1) Hernioplasty
Memindahkan fasia pada dinding perut yang lemah, hernioplasty sering dilakukan pada anak-anak
2) Hernioraphy
Pada bedah elektif, kanalis dibuka, isi hernia dimasukkan kantong diikat, dan dilakukan basiny plasty atau tehnik yang lain untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Ini sering dilakukan pada orang dewasa.
3) Herniotomy
Seluruh hernia dipotong dan diangkat lalu dibuang. Ini dilakukan pada klien dengan hernia yang sudah nekrosis.
Perawatan untuk post operasi
a. Hindari penyakit yang mungkin terjadi yaitu: Perdarahan, Syok, Muntah, Distensi, Kedinginan, Infeksi, Dekubitus, Sulit buang air kecil.
b. Observasi keadaan klien.
c. Cek TTV.
d. Cuci luka dan ganti balutan operasi sesuai pesanan dokter.
e. Perhatikan drainase.
f. Penuhi nutrisi.
g. Mobilisasi diri
- Perawatan tidur dengan sikap Fowler (sudut 450-600).
- Hari kedua boleh duduk (untuk herniotomi hari ke-5).
- Hari ketiga boleh jalan (untuk herniotomi hari ke-7).
h. Diet
- Hari 0: Bila pengaruh obat anestesi hilang boleh diberi minum sedikit-sedikit
- Hari 1: Diet Vloiher (herniotomi diet sama dengan post laparatomi)
- Hari 2: Diet bubur saring
- Hari 3: Berturut-turut diet ditingkatkan.

9. Komplikasi
a. Terjadi perlengketan dengan isi hernia dengan dinding kantong hernia, sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali
b. Obstruksi usus
c. Gangguan perfusi jaringan
d. Perforasi
e. Nekrosis isi hernia dan kantong hernia akan berisi transudat berupa cairan serosanguinus
f. Nyeri hebat ditempat hernia


B. Konsep Dasar Keperawatan

1. Pengkajian
Tahap ini merupakan tahap awal dalam proses keperawatan dan menentukan hasil dari tahap berikutnya. Pengkajian dilakukan secara sistematis mulai dari pengumpulan data, identifikasi dan evaulasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001).
Untuk kasus hernia pengkajian data dasar (Lemone & Burke, 1996), meliputi:
a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
Data subjektif:
1) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang pengobatan dan pemeliharaan kesehatan.
2) Kaji riwayat penyakit yang pernah dialami klien sebelumnya.
3) Apa upaya untuk mempertahankankesehatan dan mencegah penyakit.
4) Apa yang dilakukan klien bila mengalami gangguan kesehatan.
Data objektif:
1) Observasi penampilan dan keadaan fisik klien
2) Kaji kebutuhan klien dan kebutuhan ADL sehari-hari

b. Pola nutrisi metabolik
Data subjektif:
1). Tanyakan makanan dan minuman sehari-hari dalam 24 jam.
2). Kaji makanan kesukaan atau yang tidak disukai klien.
3). Kaji adanya gangguan menelan, mual, dan muntah.
4). Apakah ada alergi atau pantangan terhadap suatu makanan?
5). Tanyakan frekuensi makan dan jumlah makanan yang mampu dihabiskan.
Data objektif:
1). Observasi dan kaji nilai laboratorium.
2). Timbang berat badan dan catat hasilnya.

c. Pola eliminasi
Data subjektif:
1). Tanyakan kebiasaan buang air besar, teratur atau tidak, frekuensinya dalam sehari, warna dan konsistensinya, adakah sulit saat membuang air besar dan bagaimana klien mengatasinya.
2). Kaji frekuensi buang air kecil, apakah sering menahan kencing?
Data objektif:
1). Observasi dan catat intake dan output setiap shift.

d. Pola aktivitas dan latihan.
Data subjektif:
1). Kaji tingkat aktivitas klien setiap hari.
2). Tanyakan adanya keluhan lemah, nyeri untuk beraktivitas.
Data objektif:
1). Observasi tingkat aktivitas klien.
2). Kaji kemampuan memenuhi kebutuhan ADL.

e. Pola tidur dan istirahat
Data subjektif:
1). Tanyakan jumlah tidur semalam.
2). Tanyakan kebiasaan dan jumlah tidur pada siang hari.
3). Tanyakan kebiasaan sebelum tidur.
4). Adakah kesulitan untuk tidur.

Data objektif:
1). Observasi keadaan lingkungan yang dapat mengganggu istirahat klien.
2). Kaji faktor intrinsik individu yang dapat mengganggu istirahat klien.

f. Pola peran sosial
Data subjektif:
1). Tanyakan apakah penyakit ini mempengaruhi klien dan keluarga.
2). Tanyakan apakah hubungan klien dengan keluarga, teman akan mengalami perubahan.
Data objektif:
1). Kaji interaksi klien dengan pasien disebelah kiri, kanan dan dengan tenaga perawat dan dokter.

g. Persepsi diri-konsep diri
Data subjektif:
1). Tanyakan pada klien bagaimana perasaannya terhadap gangguan yang dialaminya saat ini.
2). Bagaimana masalah ini dapat membuat pandangan klien terhadap diri sendiri.
3). Tanyakan pada klien bagaimana perasaannya tentang operasi yang dialaminya.
Data objektif:
1). Kaji adanya ungkapan rendah diri klien.
2). Kaji respon verbal dan non verbal klien.

h. Pola nilai kepercayaan
Data subjektif:
1). Tanyakan apakah klien menganut sistem kepercayaan tertentu.
2). Tanyakan kebebasan klien dalam melakukan kegiatan ibadahnya.

Data objektif:
1). Kaji respon verbal dan non verbal klien saat menanyakan nilai kepercayaannya.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dan individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dalam memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan membatasi mencegah dan merubah (Carpenito, 2000).
Adapun diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien pasca operasi Hernioraphy menurut Doenges (1999) adalah:
a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan insisi bedah.
b. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah.
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi.
d. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi penyakit dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi.

3. Rencana keperawatan
Perencanaan meliputi perkembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi dan mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan, dimana tahapan ini dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi (Nursalam, 1999)
Berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien pre dan post operasi hernia, rencana tindakan keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
a. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan insisi bedah.
Tujuan: nyeri terkontrol sampai hilang

Kriteria evaluasi:
1). Klien melaporkan nyeri berkurang atau tidak ada nyeri
2). Klien mampu beristirahat/tidur dengan tepat
3). Tanda-tanda vital dalam batas normal
Rencana tindakan keperawatan:
1). Selidiki keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas dan faktor pemberat/penghilang. Perhatikan petunjuk non verbal misalnya melindungi otot, nafas dangkal, respon emosi
Rasional:
Nyeri insisi pada fase pasca operasi awal, diperberat oleh gerakan, batuk distensi abdomen, mual. Membantu mengidentifikasi intervensi yang tepat dan mengevaluasi keefektifan analgesia (Doenges, 1999).
2). Anjurkan klien untuk melaporkan nyeri segera saat mulai
Rasional:
Intervensi diri pada kontrol nyeri memudahkan pemulihan otot/jaringan dengan menurunkan tegangan otot dan memperbaiki sirkulasi (Doenges, 1999).
3). Pantau tanda-tanda vital
Rasional:
Respon autonomik meliputi perubahan pada TD, nadi, dan pernafasan, yang berhubungan dengan keluhan/penghilang nyeri. Abnormalitas tanda vital terus menerus memerlukan evaluasi lanjut (Doenges, 1999).
4). Kaji insisi bedah, perhatikan edema atau inflamasi, pembentukan hematoma, mengeringnya tepi luka.
Rasional:
Pendarahan pada jaringan, bengkak, inflamasi atau terjadinya infeksi dapat menyebabkan peningkatan nyeri insisi (Doenges, 1999).


5). Ambulasi klien sesegera mungkin.
Rasional:
Menurunkan masalah yang terjadi karena imobilisasi misal: tegangan otot, tertahannya flatus (Doenges, 1999).

b. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah.
Tujuan: klien mencapai pemulihan luka tepat waktu tanpa komplikasi
Kriteria evaluasi:
1). TTV dalam batas normal
2). Klien tidak demam
3). Tidak terjadi infeski
4). Luka tidak mengeluarkan drainase atau inflamasi
Rencana tindakan keperawatan:
1). Pantau tanda-tanda vital dengan sering, perhatikan demam, takipnea, takikardia dan gemetar.
Rasional:
Mungkin indikatif dari pembentukan hematoma (Doenges, 1999).
2). Periksa luka dengan sering terhadap bengkak insisi berlebihan, inflamasi dan drainase.
Rasional:
Terjadinya infeksi menunjang perlambatan pemulihan luka (Doenges, 1999).
3). Bebas insisi selama batuk dan latihan nafas.
Rasional:
Meminimalkan stress/tegangan pada tepi luka yang sembuh (Doenges, 1999).
4). Gunakan plester kertas/bebat montgonery untuk balutan sesuai indikasi.


Rasional:
Penggantian balutan sering dapat mengakibatkan kerusakan pada kulit karena perlekatan yang kuat (Doenges, 1999).

c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan primer, luka operasi
Tujuan: tidak terjadi infeksi
Kriteria evaluasi:
1). Klien mencapai pemulihan luka tepat waktu
2). Klien bebas dari demam
3). Luka bebas dari drainase purulen atau eritema
4). TTV dalam batas normal
Rencana tindakan keperawatan
1). Pantau tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan suhu
Rasional:
Suhu malam hari memuncak yang kembali normal pada pagi hari adalah karakter infeksi. Peningkatan suhu 4-7 hari setelah pembedahan sering menandakan abses luka (Doenges, 1999).
2). Observasi penyatuan luka, karakter drainase, adanya inflamasi
Rasional:
Perkembangan infeksi dapat memperlambat pemulihan (Doenges, 1999).
3). Pertahankan perawatan luka aseptik. Pertahankan balutan kering
Rasional:
Melindungi pasien dari kontaminasi silang selama penggantian balutan. Balutan basah menyerap kontaminasi eksternal (Doenges, 1999).
4). Berikan obat-obatan sesuai indikasi: antibiotik.
Rasional:
Diberikan secara profilatif dan untuk mengatasi infeksi (Doenges, 1999).

d. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi.
Tujuan : memenuhi kebutuhan belajar klien
Kriteria evaluasi:
1). Klien dan keluarga mengungkapkan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan .
Rencana tindakan keperawatan
1). Tentukan persepsi klien tentang proses penyakit
Rasional:
Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar (Doenges 1999)
2). Kaji ulang proses penyakit, penyebab/efek hubungan faktor yang menimbulkan gejala dan mengidentifikasi cara menurunkan faktor pendukung. Dorong pertanyaan
Rasional:
Pengetahuan dasar yang akurat memberikan kesempatan pasien untuk membuat keputusan informasi/pilihan tentang masa depan dan kontrol penyakit kronis. Meskipun kebanyakan pasien tahu tentang proses penyakitnya sendiri, mereka dapat mengalami informasi yang telah tertinggal atau salah konsep (Doenges 1999).
3). Identifikasi tanda-tanda, gejala yang memerlukan evaluasi medis (misalnya demam menetap, bengkak, eritema, terbukanya tepi luka, dan perubahan karakteristik drainase).
Rasional:
Pengenalan dini dari komplikasi dan intervensi segera dapat mencegah progresi situasi serius, mengancam hidup (Doenges 1999)
4). Demonstrasikan perawatan luka/mengganti balutan yang tepat.
Rasional:
Meningkatkan penyembuhan, menurunkan resiko infeksi, memberikan kesempatan untuk mengobservasi pemulihan luka (Doenges 1999)
5). Anjurkan peningkatan aktivitas bertahap sesuai toleransi dan keseimbangan dengan periode istirahat yang adekuat
Rasional:
Mencegah kelelahan, merangsang sirkulasi dan normalisasi fungsi organ. Meningkatkan penyembuhan (Doenges 1999).

4. Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (Nursalam, 2001). Pelaksanaan asuhan keperawatan dengan hernioraphy tentunya merujuk pada rencana keperawatan yang telah dirumuskan.
Dalam tahap pelaksanaan ini, perawat berperan sebagai pelaksana keperawatan, memberi dorongan, pendidik, advokasi, konselor dan penghimpunan data (Carpenito, 1999).

5. Evaluasi
Tindakan intelektual untuk melengkap proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai (Nursalam, 2001).
Evaluasi terdiri dari 2 jenis, yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
a. Evaluasi formatif (evaluasi proses, evaluasi jangka pendek, atau evaluasi berjalan) dimana evaluasi dilakukan secepatnya setelah tindakan keperawatan dilakukan sampai tujuan tercapai.
b. Evaluasi sumatif (evaluasi hasil, evaluasi akhir dan evaluasi jangka panjang), evaluasi ini dilakukan diakhir tindakan keperawatan paripurna dilakukan dan menjadi metode dalam memonitor kualitas dan efisiensi tindakan yang diberikan. Bentuk evaluasi ini lazimnya menggunakan format “SOAP” (Nursalam, 2001).
Tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan umpan balik dalam rencana keperawatan, nilai serta meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui hasil perbandingan, dan standar yang telah ditentukan sebelumnya.
Ada empat kemungkinan yang dapat terjadi pada tahap evaluasi, yaitu: masalah teratasi seluruhnya, masalah teratasi sebagian, masalah tidak dapat teratasi, dan timbulnya masalah baru.

6. Perencanaan Pulang
Pada klien dengan post hernioraphy perlu adanya penyuluhan tentang penyakit hernia dan cara merawat luka bekas operasi dan mencuci luka dengan baik serta mengetahui tanda-tanda penyebab infeksi. Dan anjurkan klien supaya tidak mengangkat beban berat dan beraktivitas berat.
Bila klien mengalami infeksi pada luka operasi maka hendaknya segera di bawa ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan serta pengobatan teratur dari rumah sakit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar