Rabu, 09 Juni 2010

ASKEP ASMA

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Konsep Dasar Medis
1. Definisi
a. Asma didefenisikan sebagai penurunan fungsi paru-paru dan hiperaktifitas saluran napas terhadap berbagai rangsangan. karakteristik penyakit meliputi bronchopasme, hipersekresi mukosa, dan perubahan inflamasi pada jalan napas.( Capernito, 1999 ).
b. Asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalan napas yang melibatkan sebagai sel inflamasi. Dasar penyakit ini adalah hiperaktifitas bronchus dalam berbagai tingkat, obstruksi jalan napas, dan gejala pernapasan ( mengidan sesak ).( Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3 jilid 1, 1999 ).
c. Asma adalah inflamasi dan spasme akut dari otot halus pada bronchos dan troncheolus. ( Standar perawat pasien, edisi ke 5 volume 4, 1993 ).
d. Asma adalah obstruksi atau penyempitan sebagian dari bronchos yang bersifat revelsible disertai dengan berkurangnya aliran udara dan “Whezing” paling sering timbul pada anak-anak dan dewasa.( Kapita Selekta kedokteran edisi revisi 1995 ).
e. Asma adalah penyakit jalan napas yang obstruktif intermitten, reversible, dimana trakea dan bronki berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. Asma dimanifestasikan dengan penyempitan jalan napas, yang mengakibatkan dispnea, batuk dan nengi. Tingkat penyempitan jalan napas dapat berubah baik secara spontan atau karena terapi. Asma dari penyakit paru obstruktif dalam hal bahwa asma adalah proses reversible. Eksaserbasi akut dapat saja terjadi, yang berlangsung dalam beberapa menit sampai jam, diselingi oleh periode bebas gejala. Jika asma dan bronkitis asmatik kronis terjadi bersamaan, obstruksi yang diakibatkan menjadi gabungan dan disebut brokitis asmatik kronis ( Smeltzer and Bare, 2001 ).

2. Anatomi-Fisiologi
Gambaran anatomi-fisiologi sistem pernapasan
a. Anatomi saluran pernapasan
1) Hidung
Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang ( cavum nasi ), dipisahkan oleh sekat hidung ( septum nasi ). Didalam nya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu, dan kotoran-kotoran yang masuk kedalam lubang hidung.
Fungsi Hidung :
a) Bekerja sebagai saluran udara pernapasan
b) Sebagai penyaring udara pernapasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung
c) Dapat menghangatkan udara pernapasan oleh mukosa.
d) Membunuh kuman-kuman yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan oleh leokosit yang terdapat didalam mukosa hidung.
2) Faring
Merupakan tempat persimpamgan antara jalan pernapasan dan makanan, terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Rongga tekak dibagi dalam tiga bagian :
a) Bagian atas disebut naso faring
b) Bagian tengah disebut orofaring
c) Bagian bawah disebut laringofaring.
3) Laring
Merupakan saluran udara sebagai pembentuk suara terletak didepan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk kedalam trakea dibawahnya. Pangkal tenggorkan itu dapat ditutup oleh sebuah empang tenggorok yang disebut epiglotis, yang terdiri dari tulang tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan makanan menutupi laring.

4) Trakea
Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16-20 cincin yang terdiri dari tulamg-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda ( huruf c ). Sebelah dalam diliputi oleh selaout lendir yang berebulu getar yang disebut sel berselia, hanya bergerak kearah luar. Panjang trakea 9-11 cm dan dibelakamg terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan yang memimisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan disebut karina.
5) Bronkus
Merupakan lanjutan dari trakea ada dua buah yang terdapat pada ketinggian vertebra torakkalis ke 4 dan ke 5.bronkus kanan lebih pendek dan besar dibandingkan bronkus kiri, terdiri dari 6-8 cincin mempunyai 3 cabang, bronkus kiri lebih panjang dan ramping terdiri dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang. Cabang yang lebih kecil disebut tronkus ( bronchioli ). Pada ujung bronkioli terdapat gelembung paru / gelembung hawa atau alveoli.
6) Paru - paru
Merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian bersar terdiri dari gelembung-gelembung ( Alveoli ). Gelembung-gelembung alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Jika dibentang kan luas permukaan nya lebih kurang 90 m2, pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara, O2 masuk kedalam darah CO2 dikeluarkan dari darah. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700.000.000 buah ( paru-paru kiri dan kanan).

b. Fisiologi pernapasan
Pernapasan paru-paru ( pernapasan pulmoner ) merupakan pertukaran O2 dan CO2 yang terdiri dari pada paru-paru. Pernapasan melalui paru-paru atau pernapasan exsterna, O2 diambil melalui mulut dan hidung pada waktu bernapas. Dimana O2 masuk melalui trakea sampai ke alveoli berhubungan dengan darah dalam kapiler pulmonal, alveoli memisahkan O2 dari darah, O2 menembus membran , diambil oleh sel darah merah dibawa kejantung , dan dari jantung dipompakan keseluruh tubuh.
Didalam paru-paru CO2 merupakan hasil bilangan menembus membran alveoli, dari kapilerdarah dikeluarkan melalui pipa tronkus, berakhir sampai mulut dan hidung (Drs. Syaifudin, 1996).
3. Etiologi
Asma Bronchiale dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang imunologik maupun yang non imunologik seperti emosi, kelelahan dan perubahan udara. Salah satu faktor penyebab asma ialah zat-zat yang bersifat alergen.
Jenis alergen :
a. Inhalan yang masuk dalam bahan dengan melalui alat pernapasan misalnya debu rumah, bahan-bahan yang datang (servih kulit) dari binatang misalnya anjing, kucing, kuda, spora jamur dan sebagainya.
b. Ingestan yang masuk badan melalui mulut mialnya biaanya berupa makanan seperti susu, telur, ikan-ikanan, obat-obatan dan lain sebagainya.
c. Kontakton yang masuk badan dengan jalan kontak dengan kulit seperti obat-obatan dalam bentuk salep, berbagai logam dalam bentuk perhiasan jam tangan dan sebagainya
4. Pathofisiologi
Beberapa individu dengan asma mengalami respon imun yang buruk terhadao lingkungan mereka. Anti body yang dihasilkan ( IgE ) kemudian menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan anti body, menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast ( disebut mediator ) seperti histamin, bradikinin dan prostaglandin serta anapilaksis dari substansi yang beraksi lambat (SRS/A). pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas, menyebabkan bronchospasme, pembengkakan mucus yamg sangat banyak.
System saraf otonom mempersarafi paru. Tonus otot brankial diatur oleh impuls saraf vagal melalui sistem parasimpatis. Pada asma idiopatik/non alergi, ketiuka ujung saraf pada jalan nafas diransang oleh faktor seperti infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi dan polutan , jumlah asetilkolin yang dilepaskan meningkat. Pelepasan asetilkolin ini secara langsung menyebabkan bronchokontriksi, juga merangsang pembentukan mediator kimiawi. Individu dengan asma dapat mempunyai toleransi rendah terhadap respon para simpatis.
Selain itu respon alfa dan beta adrenergik dari sistem saraf simpatis tersebut dalam bronchi. Ketika reseptor alfa adrenergik dirangsang, terjadi broncho konstriksi, broncho dilatasi terjadi ketika reseptor beta adrenergik yang dirangsang. keseimbangan antara reseptor alfa dan beta adrenergik dikendalikan trutama oleh siklik adenosin monofosfat (cAMP). Stimulasi reseptor – alfa mengakibatkan penurunan cAMP, yang mengarah pada peningkatan mediator kimiawi yang dilepaskan oleh sel-sel mast bronkokontriksi. Stimulasi dari reseptor- beta mengakibatkan peningkatan tingkat cAMP, yang menghambat pelepasan mediator kimiawi yang menyebabkan bronkodilatasi. Teori yang diajukan adalah bahwa penyekatan beta adrenergik terjadi pad individu dengan asma. Akibatnya, osmotikc rentan terhadap peningkatan pelepasan mediator kimiawi otot polos ( Smeltzer and Bare,2001)



5. Manifestasi klinis
Gejala – gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan berat badan nya derajat hiperaktifitas bronkhus, obstruksi jalan napas dapat reversible secara spontan maupun dengan pengobatan.
Gejala-gejala astma yaitu antara lain
a. Bising mengi (Wheezing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop.
b. Batuk produktif, sering padamalam hari.
c. Nafas atau dada seperti tertekan.
d. Postur tubuh tegak lurus dengan bahu membengkak keatas / elevasi.
e. Pernapasan cuping hidung
f. Pase ekspirasi diperpanjang dengan pernapasan bibir.
g. Batuk
h. Dispnea
i. Orlapnea rales
j. rales
k. Ronkhi
l. Diaporesis
m. Takikardi
n. gelisah
o. Nyeri – abdomen
p. Anorexia
q. Mual muntah
6. Pemeriksaan diagnostik
a. Anamnesis : Riwayat perjalanan penyakit, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap asthma, riwayat keluarga dan riwayat adanya alergi, serta gejala klinis.
b. Pemeriksaan fisik
c. Pemeriksaan sputum : eusnophilia dengan reaktifitas alergi, spiral cryshman, kristal charcot – leyden
d. Darah
Hitung sel darah merah lengkap dengan difernsial : leukositosis, eusinophilia, hemoglobin diatas rata-rata dan hemotokrit (H6) dengan hipoksia kronis.
e. Evaluasi gas darah
Peningkatan PCO2 ( bila 50-60, memerlukan bantuan ventilasi), penurunan cepat pada ph dan asidosis pernafasan, penurunan saturasi O2.
f. Pemeriksaan sinar X pada expansi paru berlebihan
g. Test fungsi pulmonal dengan spirometri atau peak flow meter untuk menentukan adanya obstruksi jalan napas
h. Test sensitifitas
7. Penatalaksanaan
Tujuan dari terafi asthma adalah :
a. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asthma.
b. Mencegah kekambuhan.
c. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin dan berupaya mempertahankannya.
d. Mengupayakan aktifitas kanan pada tingkat normal termasuk melakukan exercise.
e. Menghindari efek samping obat asthma.
f. Mencegah obstruksi jalan napas yang ireversibel
Yang termasuk obat anti asthma adalah
a. Bronkodiltor :
1) Agonis B2, seperti :Terbutadin, salbutamol dan feneterol.
2) Epinefrin atau adrenalin.
3) Efedrin beserta derivatnya.
4) Metukxantin seperti : Theopilin, aminofilin
5) Anti kelinergik
b. Anti inflamasi seperti : Kortikosteroid, natrium kromolin
c. Ekspektoran
d. Antibiotik seperti : Tetrosiklin, penisilin
Terapi lain pada penderita asthma adalah :
a. Terapi oksigen
b. Fisiologi dada dengan drainase postural.
8. Komplikasi
Komplikasi asthma dapat mencangkup status asmatikus, fraktur iga, pneumonia dan atelektasis. Obstruksi jalan napas, terutama, selama periode asmatik akut, sering menyebabkan hipoksia membutuhkan pemberian O2 dan pemantauan darah arteri. Cairan diberikan karena individu dengan asthma mengalami dehidrasi akibat diaforesis dan kehilangan cairan tidak kasat mata dengan ventilasi.

B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian:
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
1) Riwayat penyakit yang pernah dialami sebelumnya.
2) Status kesehatan klien sebelum sakit sekarang.
3) Hal-hal yang membuat status kesehatan klien berubah.
4) Upaya yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan dan perlindungan diri.
5) Observasi penampilan dan keadaan fisik klien.
6) Upaya yang dilakukan saat gejala penyakit timbul.
7) Harapan klien masuk rumah sakit.
b. Pola nutrisi metabolik
1) Nafsu makan dan makanan yang disukai.
2) Jenis, frekuensi, dan jumlah makanan dan minuman dalam sehari.
3) Observasi infut dan outfut tiao shif.
4) Ketaatan terhadap diet tertentu
5) Apakah sering berkeringat banyak.
6) Kesulitan yang timbul sat makan : mual, muntah.

c. Pola eliminasi
1) Pola Bab : frekuensi, karakteristik, kesulitan waktu, BAB, alat bantu dalam BAB.
2) Pola BAK : frekuensi, karakteristik, kesulitan waktu BAK, alat bantu yang dibantu.
d. Pola aktifitas dan latihan
1) Tanyakan aktifitas sehari-hari dirumah.
2) Tanyakan apakah aktifitas meningkatkan dispnea? Jenis aktifitas.
3) Berapa jauh batasan klien terhadap toleransi aktifitas.
4) Kaji tingkat keletihan, kelelahan dan malaise
e. Pala tidur dan istirahat
1) Kebiasaan waktu tidur dan jumlah tidur dalam sehari
2) Hal-hal yang menjadi hambatan sat tidur
3) Obsrvasi keadaan lingkungan yang dapat mengganggu istirahat dan keadaan klien.
4) Kaji tingkat keletihan, kelelahan ,dan malaise.
f. Pola persepsi dan konsep diri
1) Apakah yang pasien ketahui tentang penyakit dan kondisinya.
2) Persepsi klien tentang dirinya.
3) Ungkapan rasa cemas klien.
4) Konsep ieal diri tentang dirinya.
5) Merasa tidak enak dalam dirinya.
6) Adakah ungkapan klien yang menunjukan.
g. Pola persepsi kognitif
1) Penggunaan alat bantu pendengaran.
2) Mudah untuk mempelajari sesuatu.
3) Bila tidak ada rasa nyaman : dispnea, bagaimana cara mengatasinya.
4) Apakah gangguan persepsi sensori seperti penglihatan kabur, pandangan tergsanggu gangguan pengecapan, gangguan penghidupan.
5) Adakah gangguan proses pikir gangguan terhadap daya pengenalan lingkungan orang , tempat dan waktu.
h. Pola peran dengan hubungan dengan sesama
1) Apa peran klien dalam masyarakat dan lingkungan kerjanya.
2) Puaskan klien dengan peran tersebut.
3) Apakah masalah yang menyebabkan terisolir dari tetangga dimana klie tinggal.
4) Respon keluarga terhadap penyakit yang klien alami
5) Adakah gangguan peran sebagai suami, orang tua atau kakek bagi cucu-cucunya.
6) Apakah ungkapan yang menunjukan bahwa klien merasa terisolasi.
7) Apakah adaanya gangguan komounikasi verbal seperti pelo, gugup, suara sengau.
i. Pola reproduksi seksualitas
1) Kaji sesuai usia, jenis kelamin dan situasi.
2) Kaji pengetahuan klien tentang hubungan penyakit dan masalah klien saat ini.
3) Adakh gangguan fungsional atau seksual seperti penurunan libido.
j. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres
1) Hal yang membuat klien marah, takut, tegang, cemas atau depresi.
2) Siapa yang sangat membantu untuk diajak bicara atau mengatasi masalah.
3) Bagaimana mekanisme koping yang digunakan untuk menghadapi nmasalah yang dialami.
4) Apakah ungkapan klien entang penyangkalan tentang penyakit yang dideritanya.
5) Apakah klien menggunakan obat, alkohol, rokok dan lain-lain untuk membuat klien refleks.
k. Pola sistem kepercayaan
1) Adakah ungkapan klien tentang kebutuhan spiritual yang diinginkan.
2) Adakah klien tampak berdoa atau sedang melakukan ibadah.
3) Apakah selama di rumah sakit mengganggu atau mempengaruhi kegiatan ibadah.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dari individu atau kelompok di mana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan informasi secara pasti menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah. (Nursalam dikutip dari Carpernito, 2000 hal 35)
Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan potensial di mana berdasarkan pendidikan dan pengalaman dia mampu dan mempunyai kewenangan memberikan tindakan keperawatan. (Nursalam dikutip dari Gordon, 1976, hal 35).
Penetapan priorotas masalah keperawatan untuk memenuhi kebutuhan klien didasarkan pada tindakan kebutuhan dasar manusia. Prioritas masalah yang menjadi acuan penulis adalah hirarki Maslow. Di mana hirarki tersebut seperti yang dijelaskan di bawah ini :


Aktualisasi diri

Harga diri

Mencintai dan dicintai

Rasa aman dan nyaman

Kebutuhan fisiologis O2, CO2, elektrolit, makanan.

Keterangan :
a. Kebutuhan Fisiologi
Contoh: O2, CO2, elektrolit, makanan, seks
b. Rasa aman dan nyaman
Contoh: Merasa aman tinggal di rumah sakit dan merasa dilindungi oleh perawat serta merasa nyaman dengan pelayanan perawat.
c. Mencintai dan dicintai
Contoh: Kasih sayang, mencintai dan dicintai
d. Harga diri
Contoh: Merasa dihargai dan diterima dalam lingkungan masyarakat
e. Aktualisasi diri
Contoh: Ingin diakui, berhasil, dan menonjol.
(Smeltzer dan Bare, 2000)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar